"Sempat pula panah beracun yang berasal dari salah satu suku asli Papua menghujani rombongan Ustadz Fadhlan, saat mendatangi mereka untuk pertama kalinya."
Seorang pria berkulit gelap, berjambang lebat, berpenampilan ala Sunan Wali Sembilan, tampak tengah menjadi pusat perhatian. Setiap orang yang berada didekatnya hampir pasti mencium semerbak aroma kayu cendana yang khas itu.
Dialah Ustadz Fadhlan Garamatan. Mujahid Dakwah ’penakluk’ rimba Papua yang mayoritas beragama Kristen itu tengah didaulat sebagai pemateri utama dalam sebuah acara talkshow bertajuk ”Dakwah Syari’ah Menuju Rimba Papua” di gelaran Islamic Book Fair 2009, Jl. Braga 129 Bandung pertengahan Mei 2009 lalu.
Bicaranya lembut, dengan bahasa Indonesia yang fasih. Wawasannya luas dengan penjiwaan yang tenang dan tegas. Gaya orasinya sungguh memukau peserta yang hadir.
Tahun 1980-an awal mula Ustadz Fadhlan berdakwah di Papua, mengikuti kedua orangtuanya. Spirit yang dibangun yakni support dari ayah dan ibundanya untuk terus menanamkan nilai Islam di tanah Papua. Namun, ketika orangtuanya meninggal, Fadhlan sempat berhenti berdakwah karena harus melanjutkan sekolah di luar Papua, yaitu di Makassar.
Konsep yang mendasari Fadhlan untuk terus mendakwahkan Islam sangat luar biasa. ”Ketika muncul Islam, harus muncul kecerdasan. Ketika muncul Islam, harus muncul perubahan dan ketika muncul Islam, harus muncul peradaban,” ujar Ustadz yang juga merupakan Ketua umum yayasan Al-Fatih Kaffah Nusantara (AFKN) ini.
Walhasil, tambah Ustadz Fadhlan, di tanah Papua yang dulunya suka berperang, jarang mandi, mabuk dan perbuatan yang dilarang lainnya, sekarang masyarakatnya sudah mulai beradab dan bisa menjaga diri.
Ustadz yang sudah meng-Islamkan sebagian besar kepala suku di pedalaman Papua ini mengatakan bahwa pola dakwah yang ia terapkan selama ini tidak pernah terbayang dalam benak masyarakat kota.
Tidak hanya faktor misi kristenisasi kaum nashara dan apatisme para kepala suku yang kerap memberikan stigma kepada mereka (Fadhlan dan rekan lainnya) sebagai bukan orang Irian. Namun juga, ganasnya alam Papua menjadi tantangan sendiri dalam menjalankan misi dakwah di Provinsi paling Timur Republik ini.
Sempat pula panah beracun yang berasal dari salah satu suku asli Papua menghujani rombongan Ustadz Fadhlan, saat mendatangi mereka untuk pertama kalinya. ”Saya sempat tersungkur, kedua lengan dan kaki ditembus empat panah beracun. Saya memohon kepada Allah SWT untuk tidak dicabut nyawa sebelum suku tersebut menjadi muslim,” ujarnya mengenang sambil memperlihatkan bekas luka yang terdapat di kedua tangannya.
Sungguh luar biasa perjalanan dakwah Ustadz Fadhlan dan tim dakwahnya. Di satu kesempatan, bahkan ustadz alumnus fakultas ekonomi sebuah universitas di Makassar ini, bersama tim harus melakukan shalat fardhu berjamaah di atas panggung yang di bawahnya berseliweran kawanan babi peliharaan masyarakat asli Papua.
Kapal Laut untuk Dakwah
Aktivitas dakwah Islamiyah di Papua tampaknya akan semakin meningkat. Tak lama lagi, yayasan Al-Fatih Kaffah Nusantara (AFKN) akan memiliki kapal laut yang mampu menampung 20 penumpang dan membawa beban seberat 10 ton, hasil dari wakaf masyarakat yang bisa digunakan untuk syiar Islam. "Ini rahmat dari Allah SWT. Selama ini, kami harus menyewa kapal dan boat yang harganya sangat mahal agar bisa berdakwah,” terang Fadhlan.
Dengan adanya fasilitas tersebut tentu saja akan sangat memudahkan para da’i untuk bersilaturahim, sekaligus melaksanakan misi dakwah di Papua. Selain itu Fadhlan berharap, perekonomian umat Muslim di Papua pun bisa turut meningkat. "Insya Allah, dengan memiliki kapal laut sendiri, kita bisa lebih mudah bersilaturahim dengan saudara-saudara kita di berbagai pelosok di Papua," ungkapnya.
Selama lebih kurang 10 tahun terakhir, diakui Fadhlan, masalah transportasi merupakan kendala terberat dalam menyebarkan agama Allah SWT di bumi Papua. ”Terkadang, kita harus berhari-hari mengarungi laut dengan perahu. Belum lagi harga bensin di Papua yang semakin ke pedalaman harganya kian mahal," tutur ustadz kelahiran Patipi, Kabupaten Fakfak, Papua 42 tahun silam ini.
Memulai dari Kebersihan
Beragam cara unik dalam berdakwah ditempuh Fadhlan. Salah satunya adalah dengan memulai dari sifat kebersihan. ”Kita perkenalkan tata cara mandi yang sebenarnya. Setelah itu kita menutup aurat mereka, lalu kita melakukan tindakan pengislaman,” ujar ayah satu putra ini. Saat pergi shalat, lalu takbir di lokasi dakwah, mereka bertanya kepada Fadhlan, 'Kenapa angkat tangan, kenapa sujud?'. ”Saya menjelaskan bahwa agama kami Islam. Kami mengangkat tangan artinya menyerahkan seluruh jiwa dan raga kami kepada Tuhan Allah, sehingga kami menyebut Allah Maha Besar. Kami ini tidak ada artinya,” ungkap suami dari Sri Ratu Fiftien Irjani ini.
Sekitar tahun 2006, setelah masyarakat Papua yang muslim semakin banyak, diciptakanlah sebuah program yang dinamakan 5M-1A (Memiliki, membaca, menghayati, memahami, mengamalkan Alquran- 1 kampung 1 Alquran).
”Kemudian, setelah terkumpul wakaf Alquran, kami jadikan 1 rumah 1 Alquran. Selanjutnya, jika tercapai wakaf Alquran sebanyak 55 ribu eksemplar Alquran, menjadi 1 orang 1 Alquran,” ujarnya sembari menyampaikan ajakan untuk berwakaf.
Pesan moral yang disampaikan Ustadz Fadhlan begitu menggugah. Tujuan berdakwah menurutnya adalah mencari keridhaan Allah SWT. ”Setiap nilai yang didakwahkan adalah kebaikan. Kebaikan diri, keluarga, dan lingkungan. ”Irian adalah negeri muslim yang merupakan bagian bangsa Indonesia yang harus diperjuangkan dan dipertahankan eksistensinya, dan harus diistiqomahkan ke-Islaman dan kesejahteraannya,” ungkap Fadhlan.
Ia mengingatkan agar setiap orang tulus dalam berdakwah seperti Rasulullah. ”karena orang yang tulus dan mempunyai kemampuan akan diberikan kelapangan dan kemudahan oleh Allah SWT,” ungkap Fadhlan menutup pembicaraan.
DEDY AHMAD SHOLEH/ALHIKMAH